10 Gamepad Terbaik Untuk HP Android
Bermain game di HP atau tablet Android menggunakan gamepad kini bukan sesuatu yang aneh lagi. Banyak game Android yang memang sudah memiliki fitur kontrol gamepad bawaan, sehingga memberikan pilihan yang lebih beragam untuk para gamer dalam memainkannya.
Beberapa game Android populer yang dapat dimainkan menggunakan gamepad antara lain adalah Call of Duty: Mobile, Genshin Impact, Ashpalt 9: Legends, Minecraf dan GRID Autosport. Game-game tersebut memang memiliki opsi dimainkan menggunakan layar sentuh, namun memainkannya menggunakan gamepad akan meningkatkan pengalaman bermainnya.
Sedikit banyaknya, kamu akan merasa seperti memainkan game-game tersebut di konsol. Menggerakkan karakter kita di dalam game menggunakan gamepad jauh lebih imersif dibandingkan menggunakan layar sentuh.
Karena semakin banyak game yang memiliki fitur untuk dimainkan dengan gamepad, semakin banyak pula pabrikan yang membuat gamepad khusus untuk perangkat Android. Untuk Sobat Androbuntu yang sedang mencari rekomendasi gamepad, beberapa dibawah ini dapat kamu jadikan pertimbangkan.
1. 8BitDo SN30 Pro+

8BitDo SN30 Pro+ adalah controller ukuran penuh pertama dari 8BitDo yang mengusung desain klasik SNES, tetapi dengan fitur modern seperti clickable joystick, motion control, hingga koneksi USB-C. Controller ini dilengkapi dengan baterai 1000mAh yang bisa dilepas dan diganti dengan baterai AA biasa dalam kondisi darurat.
Ada tiga pilihan warna yang tersedia, yaitu SN Edition (skema warna SNES Classic), G Classic Edition (nuansa Game Boy abu-abu atau kuning) dan Black Edition polos. Selain itu, di beberapa marketplace juga muncul varian gray dan transparent purple untuk lini SN30 Pro. Jadi, cukup banyak opsi warna yang tersedia sesuai dengan selera kamu.
Soal harga, di pasar global controller ini dibanderol sekitar USD 49, sementara di marketplace Indonesia seperti Tokopedia harganya bervariasi mulai Rp 575.000 sampai Rp 700.000-an tergantung edisi warna dan toko. Harga ini masih tergolong wajar untuk kelas controller pihak ketiga dengan build quality dan fitur selengkap ini.
Ada beberapa fitur unggulan yang dibawa oleh gamepad ini, yaitu Rumble vibration, Gyro/Motion control, Software 8BitDo Ultimate untuk mengatur ulang tombol serta membuat profil custom sesuai kebutuhan game. Tambahan handle grip dibandingkan dengan SN30 Pro biasa juga membuat gamepad ini lebih nyaman digenggam untuk sesi gaming yang lama.
Untuk kompatibilitas, SN30 Pro+ bisa dipakai di Nintendo Switch, Windows 7 ke atas, macOS 10.7 ke atas, Android 4.0 ke atas, Steam, dan Raspberry Pi. Fleksibilitas lintas platform inilah yang jadi nilai jual utama, jadi satu gamepad dapat dipakai gonta-ganti dari Switch ke PC tanpa perlu beli perangkat terpisah.
2. Terios T3

Bluetooth 3.0 jadi otak konektivitas di controller ini, dipadukan dual analog stick dan baterai rechargeable yang bisa dipakai berulang tanpa ganti baterai AA. Bobotnya ringan dengan bodi mirip DualShock, jadi genggamannya cukup familiar untuk yang biasa main di konsol.
Warna yang beredar di pasaran kebanyakan hitam polos, meski ada varian dengan aksen mika transparan tergantung seller yang menjualnya. Dibandingkan saudaranya, Terios X3, box kemasan T3 memang lebih sering ditemukan berwarna hitam kombinasi plastik bening.
Banderol harganya jauh di bawah controller kelas atas, mulai Rp 80.000 sampai Rp 200.000-an tergantung bundling holder atau promo diskon di marketplace. Rentang harga tersebut membuat Terios T3 jadi opsi gamepad cadangan atau hadiah kecil tanpa perlu mikir dua kali soal budget.
Ada mode kabel dan mode Bluetooth sekaligus, ditambah holder/klip HP bawaan yang memudahkan main langsung di smartphone tanpa tripod tambahan. Sayangnya dukungan software custom mapping tidak sekomplet controller premium, jadi pengaturan tombol lebih mengandalkan aplikasi pihak ketiga seperti Octopus.
Kompatibilitasnya mencakup Android, PC, iOS, Smart TV Box, sampai bisa disambungkan ke PS3 lewat mode tertentu. Fleksibilitas lintas device inilah yang membuat gamepad murah ini tetap laris meski dari sisi build quality jelas beda kelas dengan controller branded seperti 8BitDo.
3. Fantech Revolver GP12/WGP12

Dari sisi jeroan, gamepad ini dibekali 17 tombol lengkap dengan mesin dual vibration feedback, sementara varian wireless-nya (WGP12) mengandalkan baterai 600mAh dengan estimasi standby hingga 10 jam. Bobotnya berada di kisaran 170-182 gram, cukup untuk memberi kesan solid di tangan tanpa terasa menggantung saat sesi main panjang.
Tiga pilihan warna disiapkan Fantech untuk seri ini: hitam, putih, dan hijau, sehingga cukup fleksibel menyesuaikan tema setup gaming. Nuansa warnanya sendiri terkesan lebih playful dibanding kompetitor sekelas, jadi bukan sekadar hitam-putih standar pabrikan.
Banderolnya berada di rentang menengah-bawah, mulai Rp 192.000 untuk versi kabel (GP12) hingga Rp 265.000-450.000 untuk versi wireless (WGP12), tergantung toko dan promo yang sedang berjalan. Posisi harga ini menempatkan Revolver sebagai penantang langsung Rexus Daxa Asteria AX1, dengan selisih harga yang justru lebih ramah di kantong ketimbang kompetitornya.
Konektivitas 2.4GHz jadi andalan utama versi wireless, ditambah opsi mode kabel sebagai cadangan kalau baterai habis di tengah pertandingan. Windows akan otomatis mengenalinya sebagai Xbox 360 Controller, jadi kompatibilitas game bergantung sepenuhnya pada dukungan controller di judul yang dimainkan.
Cakupan platformnya cukup luas, meliputi PC, Android, hingga PS3, menjadikannya opsi multiguna untuk yang sering berpindah device. Satu catatan dari pengalaman pengguna, build quality-nya memang belum setara merek premium, tapi untuk urusan fungsi tombol dan respons, controller ini tetap bekerja tanpa masalah berarti di kelas harganya.
4. Razer Kishi V2

Banderolnya berada di angka USD 99,99 secara global, sementara di Indonesia unit resmi biasa dijual pada rentang Rp 1,7 juta hingga Rp 1,8 jutaan tergantung varian dan toko. Harga ini jelas bukan untuk kantong pas-pasan, tapi wajar mengingat segmen yang disasar adalah gamer serius, bukan casual player.
Soal opsi warna, jangan berharap banyak variasi karena Razer hanya merilis versi hitam solid untuk lini ini. Pendekatan monokrom seperti ini sebetulnya khas produk-produk Razer, yang lebih mengutamakan kesan clean dan profesional ketimbang tampilan flashy.
Fitur unggulannya berpusat pada aplikasi Razer Nexus, mulai dari akses instan ke library game, live streaming ke YouTube dan Facebook, sampai tombol share untuk capture layar maupun rekam klip gameplay. Dua multifunction button yang dapat diprogram ulang melengkapi paket ini, memberi ruang kustomisasi ekstra bagi pemain yang punya preferensi kontrol tersendiri.
Bicara spesifikasi teknis, tombol D-pad dan action button menggunakan mekanisme microswitch yang biasa ditemukan di kontroler konsol premium, menghasilkan feedback klik yang jauh lebih presisi dibanding karet membran biasa. Desain bridge-nya bersifat extendable dan dapat menampung berbagai ukuran ponsel, termasuk yang punya camera bump besar sekalipun.
Untuk kompatibilitas, syarat minimalnya adalah Android 9.0 Pie ke atas dengan dukungan luas mulai dari Samsung Galaxy S dan Note series hingga Google Pixel, sedangkan pengguna iPhone punya varian terpisah yang setara. Koneksinya memakai jalur fisik USB-C atau Lightning alih-alih Bluetooth, sehingga latensi jauh lebih rendah dan cocok dipakai untuk cloud gaming seperti Xbox Cloud Gaming atau GeForce Now.
5. GameSir X2

Konektivitas Bluetooth 5.0 jadi fondasi utama controller ini, dipadukan port Type-C untuk pengisian daya sekaligus dukungan turbo key yang bisa dikustom sesuai kebutuhan. Baterainya berkapasitas 500mAh dan sanggup bertahan hingga sekitar 20 jam pemakaian normal, dengan waktu pengisian penuh hanya sekitar 2 jam.
Banderolnya dipatok di angka USD 59,99, setara harga controller konsol standar pada umumnya. Nilai jual seperti ini terbilang masuk akal mengingat paket penjualannya sudah menyertakan carrying case dan performa yang solid untuk gaming mobile sehari-hari.
Bentuknya mengingatkan pada Nintendo Switch tanpa layar, lengkap dengan tombol ABXY, dua joystick beraksen warna, D-pad, tombol screenshot, serta indikator LED untuk status koneksi dan daya. Permukaan pad utamanya dilapisi rubber bertekstur dengan logo GameSir di tengah, menambah kesan grip yang tidak licin saat dipegang lama.
Fitur stretch-nya mampu menampung ponsel hingga panjang 167mm dan ketebalan 1cm, sementara mekanisme pegas di dalamnya diklaim tahan banting untuk regangan berulang. Kompatibilitasnya mencakup Android dan iOS, dengan dukungan platform cloud gaming populer seperti Xbox Cloud Gaming, GeForce Now, dan Google Stadia, meski beberapa model iPhone terbaru tidak masuk daftar dukungan resmi.
Dari sisi kenyamanan, tekstur rubber dan penempatan tombol yang proporsional membuat sesi bermain lama terasa tidak melelahkan di tangan. Ditambah opsi Bluetooth yang membebaskan dari kabel, controller ini tetap nyaman dipakai baik untuk gaming rebahan di kasur maupun sambil duduk santai di sofa.
6. ASUS ROG Tessen

Untuk siapa gamepad ini paling pas? Kalau kamu gemar main FPS kompetitif seperti Call of Duty: Warzone Mobile atau butuh presisi tinggi di game racing seperti Asphalt 9, ROG Tessen dirancang khusus buat kebutuhan semacam itu berkat respons cepat dan input yang minim delay.
Dari sisi desain, engsel lipat khas ROG Foldable Hinge jadi daya tarik utama, memungkinkan bodinya menyusut jadi separuh ukuran saat dilipat sehingga mudah diselipkan ke tas atau kantong. Sayangnya, bentuk grip yang cukup menonjol keluar ini bisa terasa kurang nyaman di telapak tangan untuk sebagian orang setelah dipakai berjam-jam, meski secara umum posisi tombolnya tetap ergonomis untuk sesi bermain singkat hingga menengah.
Kompatibilitasnya terbatas hanya untuk perangkat Android, dengan konektor Type-C yang bisa diperpanjang agar tetap muat menembus casing ponsel tanpa perlu dilepas dulu. Selain gaming native di ratusan judul seperti Minecraft dan Roblox, controller ini juga mendukung penuh layanan cloud gaming seperti Amazon Luna dan Xbox Cloud Gaming.
Banderol harganya berada di kisaran USD 110-113, sejajar dengan kompetitor kelas atas seperti Razer Kishi V2 dan sedikit di atas Backbone One. Angka ini menempatkannya di segmen premium, jadi bukan pilihan untuk yang sekadar ingin coba-coba gaming mobile.
Soal fitur, joystick ALPS setinggi 18mm dengan sudut gerak 22 derajat dipadukan mechanical switch pada tombol ABXY dan D-pad memberi feedback taktil setara kontroler konsol. Tambahan polling rate 500Hz, dua paddle belakang yang bisa diprogram lewat aplikasi Armoury Crate, serta RGB Aura Sync melengkapi paket fitur yang membuat Tessen terasa seperti kontroler gaming serius, bukan sekadar aksesori pelengkap ponsel.
7. Ipega PG-9217

Fitur andalan gamepad ini terletak pada mekanisme stretchable yang bisa merenggang menyesuaikan lebar ponsel, ditambah konektivitas Bluetooth 5.0 yang diklaim minim input lag saat dipakai bermain. Baterai 350mAh di dalamnya sanggup menopang pemakaian sampai 15 jam, dengan waktu isi ulang penuh sekitar 3 jam saja lewat kabel bawaan.
Banderolnya sangat ramah kantong, mulai dari Rp 156.000 di toko diskon hingga kisaran Rp 250.000-300.000 di lapak resmi seperti toko official Ipega di marketplace. Rentang harga segini menjadikannya salah satu opsi gamepad mobile termurah dibanding kompetitor sekelas GameSir atau iPega seri lain yang fiturnya serupa.
Untuk pilihan warna, tersedia varian hitam polos, biru, serta kombinasi merah-biru yang cukup mencolok buat yang suka tampilan lebih berani. Variasi warna ini terbilang lumayan untuk gamepad kelas entry, mengingat kompetitor sekelasnya seringkali cuma menyediakan satu opsi warna saja.
Desainnya mengusung konsep retractable dengan bodi yang bisa memanjang hingga 165mm untuk menampung berbagai ukuran ponsel, lengkap dengan dudukan telescopic di bagian tengah. Build quality-nya memang kentara sebagai produk budget, namun tetap fungsional untuk kebutuhan gaming kasual sehari-hari.
Cakupan kompatibilitasnya cukup luas, meliputi Android, iOS (dengan catatan belum mendukung versi 13.4 ke atas), PC, hingga bisa disambungkan ke Nintendo Switch dan PS3 lewat mode tertentu. Fleksibilitas lintas platform ini membuatnya jadi pilihan serbaguna, meski beberapa fitur seperti direct play mungkin butuh aplikasi tambahan seperti ShootingPlus untuk game yang belum mendukung controller secara native.
8. GuliKit KingKong 2 Pro

Sensor Hall Effect elektromagnetik jadi fitur unggulan controller ini, menghilangkan masalah stick drift yang selama ini jadi momok pengguna Joy-Con maupun controller lain. Ditambah fitur APG (Auto Pilot Gaming) yang bisa merekam aksi hingga 10 menit lalu memutarnya otomatis, gyro aiming untuk FPS, serta dukungan NFC untuk fungsi Amiibo di Nintendo Switch.
Harganya berada di kisaran USD 69,99 untuk versi Pro, sedikit lebih mahal USD 10 dibanding varian standar KingKong 2 yang minus fitur sensitivitas dan Amiibo. Meski tergolong menengah ke atas, banderol ini masih sepadan dengan kompetitor sekelas seperti 8BitDo Ultimate Bluetooth Controller maupun PowerA Fusion Pro 2.
Pilihan warnanya cukup sederhana, tersedia varian hitam dengan aksen silver di bagian shoulder dan trigger, serta opsi putih polos untuk yang suka tampilan lebih clean. Finishing bahan soft-touch plastic-nya memberi kesan hangat sekaligus grip yang mantap, jauh dari kesan licin meski dipegang dalam waktu lama.
Desainnya jelas terinspirasi dari Xbox Wireless Controller, dengan bodi montok dan layout tombol yang familiar bagi siapa saja yang pernah pegang controller Xbox. Bobotnya sekitar 15 ons alias hampir 1 pon, cukup berisi di tangan namun tetap seimbang berkat distribusi beratnya yang merata.
| Kompatibilitasnya mencakup Nintendo Switch, Windows 7 ke atas, Android 4.0 ke atas, macOS 10.10 ke atas, iOS 13 ke atas, hingga Steam Deck, dengan opsi koneksi Bluetooth maupun 2.4G dan dukungan DirectInput serta XInput. Satu catatan penting, controller ini tidak kompatibel dengan Xbox Series X | S maupun PlayStation 4/5, jadi kurang cocok buat yang mengincar penggunaan lintas konsol generasi terbaru dari kedua brand tersebut. |
9. Rexus Gladius GX300

Gamepad ini dibekali baterai Lithium Polymer 600mAh yang sanggup bertahan 8-10 jam pemakaian, dengan waktu isi ulang sekitar 2-3 jam melalui kabel USB Type-C. Dimensinya cukup ringkas di angka 156 x 106 x 51mm dengan bobot 211-256 gram, ditambah teknologi stik analog eccentric 360 derajat yang mendukung gerakan presisi di segala arah.
Untuk pilihan warna, Rexus menyediakan dua opsi yaitu hitam dan putih, keduanya sudah masuk kategori V2 dengan sensor Hall Effect. Kombinasi warna simpel ini cukup fleksibel dipadukan dengan setup gaming apa pun tanpa terkesan berlebihan.
Banderolnya berada di rentang Rp 375.000 hingga Rp 460.000-an tergantung toko dan promo yang berlaku, meski harga normal sebelum diskon bisa mencapai Rp 599.000-630.000. Posisi harga ini menempatkan Gladius GX300 di segmen menengah, cukup kompetitif dibanding controller pihak ketiga sekelasnya seperti Fantech Revolver.
Fitur andalannya meliputi touchpad multifungsi, hall magnet trigger sensor, six axis sensor untuk motion control, lubang audio 3.5mm TRRS untuk headset, serta dua tombol macro ML/MR di bagian belakang yang bisa diprogram hingga 12 fungsi berbeda. Tambahan LED tube untuk pencahayaan dan handgrip bertekstur anti-slip melengkapi paket fitur yang cukup lengkap untuk kelas harganya.
Soal kompatibilitas, controller ini mendukung dual koneksi lewat kabel maupun Bluetooth V4.2, dengan cakupan device meliputi PlayStation 4, PlayStation 5 (terbatas ke game PS4), PC via X-Input, dan Android via Bluetooth. Fleksibilitas lintas platform ini menjadikannya pilihan serbaguna bagi yang sering berpindah antara gaming di konsol, PC, maupun smartphone.
10. Memo Gamepad S3

Ukurannya ada dua versi: yang buat HP dimensinya 217,5 x 104 x 51mm, berat 195 gram, bisa direntangin dari 102mm sampai 176mm. Yang versi tablet lebih gede dikit, 268,5 x 104 x 51mm dengan bobot 226 gram, rentang stretch-nya 153mm-276mm. Sama-sama pakai joystick Hall Effect dan trigger-nya cukup sensitif, jadi kalau main game racing rasanya kayak beneran injek gas.
Bukan pilihan warna sih sebenarnya, tapi lebih ke varian konfigurasi. Ada versi mobile/smartphone, versi tablet/iPad, sampai paket yang udah dibundle kipas pendingin (S3-Phone+Kipas dan S3-Tablet+Kipas). Jadi tinggal sesuaikan aja mau pakai di device apa.
Harganya lumayan bersahabat. Di kertas sih harga normalnya bisa sampai Rp 1 juta, tapi di marketplace biasanya udah didiskon jadi sekitar Rp 400 ribuan, bahkan versi luar negerinya cuma dibanderol sekitar USD 40-an. Buat kelas controller telescopic dengan Hall Effect, harga segitu tergolong bersaing.
Yang bikin menarik, ada fast charging 36W jadi bisa main sambil ngecas tanpa takut kehabisan baterai di tengah pertandingan. Ada juga macro recording buat yang suka atur gameplay sendiri. Tapi ada catatan buat pengguna iOS: fitur mapping-nya cuma jalan mulus di Android, kalau di iPhone atau iPad cuma bisa main game yang emang udah support joystick dari sononya.
Untuk kompatibilitas, hampir semua HP Android berport Type-C bisa pakai ini, kecuali yang masih pakai chipset MediaTek Helio G95 ke bawah. Buat iPhone, minimal harus seri 15 ke atas karena udah pindah ke USB-C. Dengan cakupan segitu, controller ini lumayan fleksibel dipakai baik buat cloud gaming maupun main game native, asal device-nya memenuhi syarat di atas.